Mengenal Awug dan Dodongkal: Kuliner Tradisional Sunda Bertetangga Nama yang Memikat Media Internasional
RENJANINEWS.ID, PALABUHANRATU – 10 Agustus 2026 | Kuliner berbasis tepung beras, kelapa parut, dan gula merah merupakan salah satu identitas jajanan pasar tradisional khas Sunda yang bertahan lintas generasi. Di antara sekian banyak varian, dua nama yang paling populer namun sering kali dianggap sama oleh masyarakat luar Jawa Barat adalah Awug dan Dodongkal (atau biasa disebut Dongkal). Meskipun menggunakan bahan baku utama yang identik, keduanya memiliki perbedaan mendasar pada penamaan, filosofi alat masak, serta penyajiannya.
Perbedaan Penamaan dan Filosofi Alat Masak
- Awug: Nama “Awug” berasal dari kata dalam bahasa Sunda “di-awug-awug”, yang mengacu pada proses pengolahan bahan dasarnya, yaitu tepung beras, kelapa parut, dan irisan gula merah yang diaduk acak atau ditabur merata sebelum dikukus. Ciri khas utama Awug adalah dikukus menggunakan wadah kerucut dari anyaman bambu yang disebut aseupan di atas dandang kuningan (seeng).
- Dodongkal (Dongkal): Nama “Dodongkal” merujuk pada kuliner tradisional yang berasal dari wilayah Priangan barat (seperti Sukabumi, Bogor, hingga kawasan Betawi). Perbedaan paling kentara terletak pada bentuk dan alat pengukusnya: jika Awug identik dengan cetakan aseupan kerucut melingkar, Dodongkal tradisional sering kali dikukus menggunakan cetakan khusus berlapis atau loyang bambu yang menghasilkan potongan segi empat, meskipun pada praktiknya di beberapa daerah penggunaan aseupan juga mulai beririsan.
Dari segi tekstur, Awug memiliki kelembapan dan kelembutan khas berkat rongga udara dalam aseupan, sedangkan Dodongkal cenderung memiliki kepadatan yang sedikit lebih tinggi dengan lapisan gula merah yang dibentuk berseling-seling secara simetris.
Sorotan dan Liputan Media Asing
Keunikan proses pembuatan kue beras kukus khas Nusantara ini tak luput dari perhatian media internasional. Beberapa platform dokumenter kuliner kenamaan dunia, seperti Street Food Asia (Netflix) dan berbagai liputan tayangan travel & culinary dari media Jepang dan Eropa (seperti CNN Travel dan Channel NewsAsia), pernah mengulas jajanan kukus beraroma pandan dan gula aren khas Indonesia ini.
Media asing menyoroti penggunaan alat masak tradisional berbasis Anyaman Bambu (aseupan) yang mampu memberikan aroma alami pada tepung beras dan gula merah, serta menilai Awug/Dodongkal sebagai contoh sempurna dari sustainable culinary heritage (warisan kuliner berkelanjutan) yang mempertahankan teknik pengukusan kuno di tengah era modernisasi.